Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

BAGIKAN

Share on whatsapp

bertanya kepada ahlinya

Memahami mengapa dan bagaimana media sosial menyebarkan misinformasi terkait wabah tidak melulu mudah.

Sebab itu kami bekerja keras untuk memecahkan makna dibalik kata, agar kita semua dapat menjelaskan kepada orang-orang terkasih mengenai misinformasi, tanpa mereka mengernyitkan kening!
Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan terkait misinformasi COVID-19, yang bisa membantu kamu juga teman dan keluarga untuk menghentikan penyebaran misinformasi.

Misinformasi adalah informasi yang tidak benar atau setengah benar. Misinformasi sering disebarkan dengan tujuan untuk menyesatkan atau menipu, sehingga memberikan informasi yang salah kepada publik.

Misinformasi bisa berbentuk rumor, berita bohong, konspirasi, meme, atau informasi yang dipalsukan.

Istilah hoax atau berita bohong digunakan untuk menggambarkan kebohongan yang dikemas seperti berita asli dengan tujuan untuk menipu.

Istilah ini kurang tepat dalam menggambarkan beragam jenis misinformasi, karena tidak semua misinformasi berbentuk berita. Ada juga misinformasi yang disebarkan di luar situs berita, seperti konten media sosial, pesan Whatsapp, dan lain sebagainya.

Kami menggunakan istilah “misinformasi” karena kata ini lebih mewakili berbagai jenis informasi salah yang beredar, khususnya tentang COVID-19.

Misinformasi adalah sebutan untuk segala berita yang salah, termasuk ‘disinformasi’. Misinformasi mencakup semua informasi salah yang disebarkan baik dengan sadar atau tidak sadar untuk menyesatkan. Disinformasi adalah sebutan untuk informasi yang secara sadar disebarkan dengan tujuan untuk menipu atau menyesatkan.

Misinformasi mengenai COVID-19 sudah gencar dan terus meningkat drastis sejak wabah ini baru terjadi. Contoh misinformasi COVID-19 yang sering beredar adalah:

  • Asal muasal virus, misalnya virus tersebut dibuat di sebuah laboratorium di Wuhan atau bahwa Bill Gates menciptakan virus ini untuk mengontrol dunia.
  • Cara-cara untuk menghindari COVID-19, misalnya minum kunyit asem, berjemur di bawah sinar matahari, dan suara azan bisa membunuh virus penyebab COVID-19.
  • Hal-hal konyol lainnya, misalnya virus penyebab COVID-19 dimasukkan ke dalam tes PCR, dan lain sebagainya.

Apa dampaknya jika sepertiga orang Amerika percaya bahwa COVID-19 adalah buatan laboratorium? Mengapa menjadi penting jika sebagian masyarakat mengira seorang Paus atau pemuka agama lainnya memiliki virus? Informasi yang salah mengurangi kepercayaan kita pada lembaga-lembaga publik, namun kerusakannya sulit diukur. Selama wabah, informasi kesehatan bisa saja pada akhirnya menyebarkan informasi mengenai bahaya yang diukur dari misinformasi, sehingga menjadikannya informasi yang salah

  • Mengonsumsi cairan pemutih pakaian pernah disarankan sebagai metode pencegahan, meski terdengar seperti lelucon, beberapa pusat kesehatan dan layanan masyarakat harus mengeluarkan larangan yang melarang konsumsi cairan pemutih pakaian.
  • Banyak menara 5G diserang dan dibakar karena dianggap menyebarkan virus Covid-19. Hal ini sungguh terjadi! Kejadian-kejadian tersebut setidaknya telah terjadi di Inggris, Selandia Baru, Belanda, dan Irlandia.
  • Banyak rumor seputar Covid-19 menargetkan kelompok etnis tertentu, di beberapa negara, hal ini telah meningkatkan kasus kekerasan dan pelecehan terhadap etnis Cina dan Asia pada umumnya.
  • Ratusan ribu orang berlangganan dan percaya pada saluran-saluran di Youtube dan grup-grup di Facebook yang menyebarkan informasi yang salah. Hal ini menyebabkan beberapa kelompok masyarakat percaya bahwa mereka kebal atas virus Covid-19 dan mengabaikan anjuran kesehatan masyarakat.
  • Misinformasi menambah tugas pemerintah dan pejabat publik yang kini tengah berjuang keras mengatasi wabah Covid-19. Jika mereka harus mengatasi wabah Covid-19 dan wabah misinformasi sekaligus, upaya untuk mengatasi Covid-19 bisa terpecah dan menjadi tidak maksimal.

Teori konspirasi selalu menyertai pandemi dan wabah penyakit. Ketika Black Death menyapu seluruh Eropa pada tahun 1340-an, rumor menuding orang-orang Yahudi telah meracuni sumur. Sementara, selama pandemi flu Spanyol pada 1918, AS menyalahkan kapal selam Jerman.

Satu teori oleh negarawan dari Florentine, Niccolò Machiavelli, yang telah hidup melewati wabah tahun 1523 adalah ketika dilanda pandemi, masyarakat sering kali merasa kiamat akan tiba. Ketika masyarakat tidak dapat melakukan rutinitas sehari-hari, dan terasingkan satu-sama lain, mereka akan mencoba mencari penyebab-penyebab lain yang sesuai dengan kepercayaan mereka.

Pemikiran serupa juga menjawab mengenai penyebab teori konspirasi; yaitu menyebar selama masa krisis karena masyarakat sangat membutuhkan penjelasan yang lebih besar dan luhur. Masyarakat ingin sekali bahwa ada kekuatan yang bekerja bertanggung jawab atas kehidupan dan penyakit ini di luar penyakit itu sendiri.

Satu hal yang pasti, lebih dari penyakit, Covid-19 juga telah menjadi fenomena yang sangat menarik bagi ilmu psikologi.

Seseorang yang Anda kenal menyebarkan desas-desus terkait Covid-19 melalui telepon atau Whatsapp? Poynter membuat database yang menyusun artikel yang telah diperiksa fakta dari lebih dari 70 negara di seluruh dunia agar kita dapat memeriksa kebenarannya. Dalam bahasa Indonesia, kita juga bisa memeriksa [insert partners’ pages here here, eg remotivi, IDI, Hello Sehat]

 

Jika seseorang yang kita kenal memposting informasi yang salah di media sosial, jangan mengomentari pos tersebut, meski untuk memberi tahu kebenarannya. Keterlibatan kita hanya akan memperluas jangakauan konten tersebut. Jika kita mengenal mereka, hal terbaik yang harus dilakukan adalah melalui pesan pribadi. Jika kita tidak mengenal mereka, cukup blokir atau laporkan konten tersebut kepada yang berwenang (kepada Facebook, Twitter, Instagram, atau perusahaan platform lainnya) melalui fungsi laporkan..

 

Untuk meningkatkan keterampilan orang tersebut, kirimkan [LINK: Panduan Bijak Berselancar] kami yang berguna untuk mengajari mereka cara mendeteksi informasi yang salah dan mencegah penyebaran. Seperti kata pepatah, jika kita memberikan ikan, maka orang tersebut dapat makan selama sehari; namun jika kita memberi kail, maka dia dapat makan seumur hidup.

Kami telah membuat berbagai alat yang dapat membantu menghentikan penyebaran misinformasi. Temukan alat-alat yang bisa membantu Anda di Kotak Pertolongan Pertama.

Selain itu, kita juga bisa mendesak agar platform media sosial mengambil lebih banyak tanggung jawab atas penyebaran misinformasi dengan cara mengirim pesan mengenai persoalan yang kamu hadapi kepada media sosial tersebut.

Masih memiliki pertanyaan?
Tanyakan Kepada ahlinya sekarang juga!

bagikan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Penafian

Situs ini tidak menyediakan tes COVID-19. Jika kamu memiliki gejala COVID-19 seperti batuk, sesak napas, dan demam, segera hubungi rumah sakit terdekat. Untuk informasi layanan rumah sakit rujukan, klik tombol di bawah: